Subscribe to RSS feed

«

»

Oct
27

“Mengasuh Anak : Jumpalitan Tapi Bahagia”

Mengasuh Anak? Itu Aku banget, hehe.

Mengasuh anak adalah salah satu bagian dari rutinitas harian bahkan yang paling banyak menyita perhatian saya setidaknya selama kurang lebih 6 tahun terakhir. Bukan, bukan sebagai baby sitter atau pengasuh anak bayaran, tapi sebagai seorang Ibu dari tiga makhluk ajaib yang menyemarakkan dunia kesempurnaanku sebagai seorang wanita. Yah, saya adalah seorang Ibu rumah tangga yang kata sebagian kalangan dianggap “tak berkelas”. Ibu rumah tangga yang kerjaannya bisa ditanggulangi dengan menggaji orang dengan bayaran sekian ratus ribu hingga sejuta lebih sekian, termasuk dalam hal mengurus anak. Ibu rumah tangga yang pernah stress dengan kerjaan yang “itu-itu saja”. Ibu rumah tangga yang pernah merasa begitu minder melihat teman-teman melenggang denga kariernya masing-masing bak seorang peragawati yang jalanya begitu angkuh di atas “Catwalk”. Ibu rumah tangga yang pernah merasa omongannya tidak didengar karena orang menganggap kita tahunya hanya anak, dapur, anak lagi, bersih-bersih, anak lagi, tak ada habisnya.

Sejak si sulung terlahir awal 2006 silam, sejak itu pula saya perlahan, tertatih-tatih belajar menjadi seorang ibu. Semuanya benar-benar dari nol karena saat itu usia saya baru menginjak 21, masih terhitung terlalu muda untuk menjadi seorang ibu, dan tidak lagi memiliki ibu yang ladzimnya menemani awal-awal putrinya menjalani peran sebagai seorang ibu, mengajarkan bagaimana menjadi seorang ibu yang baik. Takdir hidup saya menetapkan bahwa saya menikah dan memiliki anak ketika Ibu saya sudah kembali menghadapNya. Rasanya masih ingat, bagaimana jari-jari saya bergetar saat harus memandikan si kecil sendirian dengan berbekal pengetahuan melihat bidan yang mmbantu saya setelah melahirkan dulu. Bagaimana takut dan kakunya saya memandikannya, memakaikannya baju, menggendongnya, menyusuinya, memberinya makan, semuanya benar-benar terasa kaku saat itu. Tapi saya pembelajar yang rajin dan berani hingga tak butuh waktu yang lama untuk menyesuaikan diri.

Mengasuh anak, jumpalitan tapi bahagia Mengasuh anak, jumpalitan tapi bahagia —————–>

Memang tidak mudah, sambil kuliah saya harus menenteng bayi saya ke sana kemari karena tak ada yang menjagainya. Waktu itu suami saya sendiri juga masih berstatus mahasiswa hingga hanya bisa menjaga si kecil saat dia lowong. Semester akhir saya lalui sambil sibuk mengasuh si sulung yang alhamdulillah dengan izinnya tak pernah membuat saya merasa sampai terkapar. Ada banyak bantuan yang datang silih berganti meskipun bukan datang dari kedua pihak keluarga tapi dari sahabat dekat. Dan saya selalu yakin kemudahan itu datang juga karena Allah melihat betapa keras usahaku untuk menjadi wanita/ibu yang baik. Untuk turun tangan langsung mengurus si sulung meski dengan pengetahuan yang begitu minim. Untuk bersikeras mengasuhnya meski ibu mertua saya memaksa merawat si kecil agar saya bisa konsentrasi menyelesaikan kuliah yang itu artinya saya harus berpisah jarak ratusan kilometer, dan itu artinya anak saya harus kehilangan kesempatan mendapatkan ASI yang begitu berharga untuk pertumbuhannya. Alasan terakhir ini yang paling membuat saya kukuh bertahan mengasuhnya sendiri hingga menolak halus tawaran ibu mertua.

Hingga dua tahun kemudian si tengah lahir. Saya semakin disibukkan dengan urusan mengasuh anak. Meski kata orang repotnya akan semakin terasa, tapi saya justru merasakan lain. Si sulung sepertinya lebih cepat mengerti dan memposisikan dirinya sebagai kakak dan itu sangat membantu saya dalam mengasuh mereka berdua. Meski terkadang si sulung memperlihatkan rasa cemburunya saat saya lebih memperhatikan adiknya tapi tak pernah ia tunjukkan dengan kerewelan, apalagi sampai ngambek dan menangis. Ia hanya akan terdiam memperhatikan setiap langkah dan gerak saya hingga saya sadar bahwa ia butuh diperhatikan hingga seketika itu juga saya akan berlari memeluknya dan mengatakan betapa saya sangat menyayanginya sama seperti menyayangi adiknya. Berusaha mencari bahasa yang paling sederhana agar ia mengerti bahwa adiknya jauh lebih membutuhkan perhatian tidak hanya dari saya tapi juga darinya sebagai seorang kakak yang subhanallah, ia bisa dengan mudah memahami meski usianya saat itu baru 2 tahun lebih. Saya merasa kekhawatiran orang akan ketidakmampuan ibu muda seperti saya mengasuh dua batita sekaligus tidak benar-benat terbukti. Dan saya menyadari kemudahan itu semata karena saya ikhlas dan bahagia menjalaninya.

Mengasuh anak, jumpalitan tapi bahagia Mengasuh anak, jumpalitan tapi bahagia ——————->

Hingga memasuki tahun keenam saya menjadi seorang istri, si bungsu terlahir ke dunia. Permasalahan kecil mulai timbul ketika mengasuh mereka. Si sulung dan si tengah yang selama ini akur dan saling sayang tiba-tiba berubah sikap, berusaha saling menyaingi dan menganggap dirinyalah kakak dari si sulung. Berusaha mencari perhatian dari saya dan suami dan saling sikut. Rumah yang selama ini aman tentram berubah bagaikan rumah yang dihuni oleh Tom & Jerry yang setiap saat ada saja grasa-grusu, teriakan, tangisan dan rengekan meski tak jarang mereka juga bisa saling sayang dan memperhatiakan satu sama lain. Saat si bungsu sedang mam ASI, si tengah selalu saja berteriak minta diambilkan ini itu, sementara si sulung tak kalah keras teriakannya meminta untuk diajari ini itu karena memang baru saja kami sekolahkan di taman kanak-kanak. Tingkah pola mereka benar-benar membuat saya jumpalitan diantara kesibukan lain, seperti bersih-bersih rumah, nyuci, ngepel, masak yang semuanya benar-benar saya kerjakan seorang diri tanpa bantuan siapapun.

Mengasuh anak, jumpalitan tapi bahagia Mengasuh anak, jumpalitan tapi bahagia ———————–>

Suami saya yang memutuskan untuk kembali melanjutkan pendidikan membuat saya semakin kewalahan. Memang waktu yang ia gunakan untuk kuliah tak seberapa dan selebihnya berada di rumah, tapi ia tetap tak bisa membantu banyak karena di rumah ia tak duduk santai dan tiduran tapi kembali duduk serius di depan komputer untuk melaksanakan tugasnya mencari nafkah sebagai seorang translator/penerjemah. Jangankan untuk turun tangan membantu, untuk berbicara saja susah jikalau sedang serius bekerja karena yang ia kerjakan adalah terjemahan bahan-bahan kuliah kedokteran S2 dan spesialis yang benar-benar membutuhkan konsentrasi penuh dalam mengerjakannya. Salah sedikit, bisa fatal akibatnya. Saya tak bisa menyalahkan suami dan kalau sudah begitu saya mencoba berdamai dengan keadaan bahwa saya bisa menangani ketiga makhluk ajaib itu sendirian. Selama saya bisa menyelesaikan segala kewajiban saya, itu tak soal meskipun jujur waktu untuk istirahat amat sangat sedikit dan itu sangat melelahkan.

Setiap kali mereka bertengkar, tiap saat itu juga ada yang menangis, bisa jadi salah satunya atau dua-duanya. Lalu apa yang saya lakukan setiap mereka bertengkar? Saya akan mendudukkan mereka di tempat yang sama. Menanyakan perihal yang sebenarnya pada si sulung juga pada si tengah. Mereka berdua tak jarang masih saling menyalahkan dan membuat saya gemas sendiri. Saya tak pernah membedakan mereka saat memberi penjelasan atas kesalahan mereka berikut hukumannya. Saya juga tak pernah memberi hukuman terang-terangan pada salah satu sementara yang lainnya tertawa girang. Saya berusaha agar tak terlihat condong sebelah, agar mereka tahu bahwa saya menyayangi mereka sama rata, tak ada pilih kasih sedikitpun. Memahamkan mereka bahwa yang setiap ada pertengkaran, yang salah adalah kedua-duanya karena tak ada yang mau mengalah hingga hukuman juga dijalani berdua dan selalu saja, setiap mereka menjalani hukuman tak boleh keluar rumah, keluar kamar, dan menonton tivi, diam-diam mereka jutru berbaikan di saat itu.

Sedikit terbantu di pagi hari. Saat si sulung bersekolah, suami juga kuliah, tinggallah saya bertiga di rumah bersama si tengah dan si bungsu. Si tengah yang tidak ada saingan jadi lebih mandiri. Bermain sendiri dan tak jarang memperlihatkan rasa sayangnya pada si bungsu, dengan mengajaknya bercanda dan bermain. Tapi Kebalikan, si bungsu justru tak pernah mau bermain dengan si kakak. Sigap melakukan protes saat saya meninggalkannya meski untuk sementara. Pekerjaan di pagi hari yang sangat banyak akan berantakan kalau saya menuruti si bungsu untuk selalu di sisinya. Walhasil saya benar-benar jumpalitan, kerepotan, saat si bungsu tak mau tidur meski telah sarapan dan mandi, si tengah yang terus-terusan mengganggu si adik agar mau bermain bersamanya semantara saya sedang bergelut dengan dunia bumbu-bumbu masak, minyak panas, panci dan wajan. Sahabat jelas bisa membayangkan betapa repotnya saya menghadapi situasi ini tapi saya selalu berusaha tenang sambil berdoa agar semua urusan tetek bengek RT ini bisa kelar seperti waktu yang saya jadwalkan.

Untuk si tengah yang terus berusaha membuat adiknya tetap terjaga, saya beri pengertian agar ia mau main sendiri sambil menunggu si kakak pulang. Meminta agar ia bisa bermain, memutarkan video kartun atau pengenalan huruf-huruf dan angka di komputer tanpa menimbulkan suara gaduh yang bisa menghalangi si adik tertidur dan itu berarti menghalangi saya mengerjakan pekerjaan lain. Sementara untuk si bungsu terpaksa saya berinisiatif untuk mengatur jadwal tidurnya di pagi hari setelah sarapan dan mandi. Memindahkan ayunan si bungsu yang biasanya di kamar, ke dekat pintu dapur agar saya bisa masak dan bersih-bersih sambil menidurkannya dan ini juga mengecilkan kemungkinan si tengah mengganggu tidur pagi adiknya.

Urusan capek tidak hanya sampai di situ. Memiliki satu anak berusia 5 tahun, dan dua batita yang lagi aktif-aktifnya tentu sangat menguras tenaga. Ditambah dengan mengurus suami dan pekerjaan rumah yang tak ada habisnya. Namun alhamdulillah, jumpalitannya saya mengasuh mereka tidak sampai membuat stres seperti ibu-ibu pada umumnya yang mungkin jika berada di posisi saya akan memilih mempekerjakan seorang PRT. Untuk yang satu ini saya menolak, bukan hanya karena harus mengelurkan biaya untuk itu tapi alasannya adalah saya benar-benar ingin total mengawasi tumbuh kembang anak-anak seperti keingian saya sejak memutuskan menikah muda 7 tahun silam, dimana kelak tugas sebagai seorang ibu ini akan diminta pertanggungjawabannya kelak di pengadilan akhirat.

Yah, saya mungkin belum bisa menjadi ibu yang baik dan sempurna. Di usia yang baru akan menginjak angka 27, emosi dan keinginan terkadang masih sulit diredam. Selalu ada rasa yang datang mengganggu. Bosan dengan rutinitas yang itu-itu saja? Mungkin iya. Jenuh? mungkin pernah terlintas tapi balasan akan setiap tetes keringat saya mengerjakan kewajiban sebagai istri sekaligus ibu dengan cepat menghapusnya.

Tatapan dalam, kecupan hangat, pelukan sayang, pijatan lembut sebagai tanda terima kasih dari suami tercinta karena telah bersabar dan berusaha keras menjadi partner yang baik, menjalani hidup yang begitu indah dan sederhana seperti yang kami impikan sejak awal.

Belum lagi dengan ungkapan, ciuman dan pelukan sayang bertubi-tubi dari si sulung dan si tengah yang terkadang itu juga menjadi bahan pertengkaran mereka (ingin menjadi anak yang paling sayang sama mamanya) :) Melihat si bungsu yang begitu aktif, selalu tertawa, dan kini sudah bisa berjalan dua tiga langkah, subhanallah.
Lelah, penat, musnah sudah berganti rasa bahagia tak terkira.

Mengasuh anak, jumpalitan tapi bahagia

Fira, 'Ashar & Faiz, beberapa bulan lalu

Benar sekali kalimah bijak yang diucapkan oleh Mildred B. Vermont, “Being a full time mother is one of the highest salaried jobs in my field, since the payment is pure love”. Saya sungguh sepakat. Menjadi seorang full time mother, upahnya jauh lebih tinggi dari pekerjaan manapun karena bayarannya adalah cinta yang tulus dan saya telah merasakan percikan rasa itu. Semoga saja saya diberi kesempatan olehNya untuk menemani dan menyaksikan mereka melewati masa-masa pertumbuhan hingga kelak mereka menemukan kehidupan sendiri bersama keluarga barunya masing-masing, amin.

Jumpalitan mengasuh anak? Iya, tapi saya benar-benar bahagia. Sumpah!!!

Mengasuh anak, jumaplitan tapi bahagiaArtikel ini diikutsertakan pada Giveaway Pertama “Anakku Sayang” yang diadakan oleh blog rumahmauna.

41 comments

  1. Lidya says:

    walaupun jumpalitan tapi puas kok mbak bisa mengasuh anak sendiri

    [Reply]

    Bangauputih Reply:

    bener mba, saya pengen dong diajarin sama mba biar anak2ku pinter juga kaya si pascal :D

    [Reply]

  2. 16 September says:

    Secara langsung, belum pernah. Sementara cuma bisa membayangkan…

    [Reply]

    Bangauputih Reply:

    hehe, kalau si ayah jarang yg jumpalitan mas

    [Reply]

  3. Mabruri says:

    hampir sama jarak usia antara saya dengan alm adik saya dengan anak-anak ibu,,,
    Jadi mungkin dulu ibu saya jg seperti itu ya,,, tapi agak tertolongnya mungkin karena dulu saya ga mengonsumsi ASI (bayi sok gaul saya,, hahaha), jadi ibu lebih leluasa negurusin adik.

    salut dengan ibu, bisa jadi inspirasi.. :D

    [Reply]

    Bangauputih Reply:

    nggak konsumsi ASI? kenapa???
    alhamdulillah sejauh ini saya masih bisa menghandel mereka bertiga, semoga tetap begitu, amin

    [Reply]

    Mabruri Reply:

    hehe,, iya bu..
    Katanya selalu dimuntahin waktu diberi ASI,
    jadi waktu dulu ibu juga sudah pasrah, katanya, ini anak mau hidup apa gak sih,, hahahh

    [Reply]

    Bangauputih Reply:

    masa? baru tahu :D
    klo masih setahun ke bawah, habis mam ASI trus muntah kan biasa. klo bayi saya sering tapi karena kekenyangan :D

  4. Pakde Cholik says:

    Itulah kelebihan seorang ibu. Dia tak hanya melahirkan tetapi rentetan tugas selalu hadir setiap saat, sejak bangun pagi hingga saat tidr kembali.

    Jika dilakukan dengan ikhlas dan dengan niat yang lurus,Insya Allah bernilai ibadah, barokah dan akan aman berada pada koridorNYA.

    Semoga ibu melakukan semua tugas ini dengan penuh kasih sayang.
    Acungan jempol untuk ibu Bangau Putih.

    Masmu yang sedang menuntut ilmu juga hebat dan Insya Allah sukses.

    Semoga Allah Swt mencurahkan rahmat dan hidayah-NYA kepada ibu sekeluarga. Amiin ya Robbal ‘alamin.

    Salam hangat dari Surabaya
    (ssst…saya belum tahu ada kontes ini lho…ke TKJP ach)

    [Reply]

    Pakde Cholik Reply:

    Saya kok gak lihat fotonya Fathan dan Azizah sebagaimana di persyaratkan oleh penyelenggara Giveaway ?
    Atau saya kurang jeli ya ?

    [Reply]

    Pakde Cholik Reply:

    Eh ternyata ada ya di atas penutup artikel he he he..lanjutken !!

    [Reply]

    Bangauputih Reply:

    amin, makasih banyak doanya pakdhe :)
    doakan semoga saya tetap sabar dan ikhlas menjalaninya walau berat, walau lelah, tapi ini adalah murni pilihan saya dan akan saya kerjakan dengan senang hati :D

    [Reply]

  5. Erwin says:

    ibu saya dulu mungkin juga seperti itu…
    semoga menang kontesnya mbak.. :)

    [Reply]

    Bangauputih Reply:

    saya dulu malah agak jauh2 jarak umurnya dengan kakak dan adik, beda umurnya 5 tahunan.
    terima kasih yah mba

    [Reply]

  6. Nchie says:

    Sangat-sangat Jumpalitan..
    aku aja anak nya 1,apalagi 2 atau 3 ..
    woalah..
    Tapi seneng banget,tantangan mengurus anak tuh..

    Sukses ya Ngontesnya..

    [Reply]

    Bangauputih Reply:

    senangnya mungkin akan lebih kerasa ketika kelak mereka dewasa dan berhasil yah mba dan masa2 jumpalitan ini akan selalu menjadi kenangan indah :D

    [Reply]

  7. nh18 says:

    the payment is pure love …

    Indeed …

    Komentar ini saya tujukan untuk anak-anak : Fira, Azhar, dan Faiz …

    Keponakan-keponakanku tersayang,
    Jika kelak kalian sudah bisa membaca …
    Kalian Harus … harus membaca tulisan Mamamu yang satu ini …
    Resapi artinya … dan kalian akan tau … Betapa Mama hebat kalian ini sayang sekali pada kalian. Dan Mamamu itu rela dan ikhlas melakukan semuanya itu untuk membesarkan dan membahagiakan kalian …

    Jadi …
    Jangan pernah sekalipun kalian menyakitinya ya …
    Jangan pernah … !
    Bahagiakanlah Mamamu …

    Bagaimana caranya Pak Uwo ?
    Gampang … cukup dengan kalian belajar dengan baik … beribadah dengan baik … tidak nakal dan kalian harus saling bantu tolong menolong diantara kalian tiga bersaudara …

    Pak Uwo yakin … yakin … itu sudah sangat membahagiakan Mama kalian

    Salam saya
    Pak Uwo …

    [Reply]

    Bangauputih Reply:

    aku nangis baca komentar pak Uwo, hiks….
    terima kasih yah OmNH, selalu memberi komentar yang menyejukkan hati :D

    [Reply]

    yuniarinukti Reply:

    Saya sampai deg-degan baca komentar Om Nh ini..

    [Reply]

  8. mauna says:

    terima kasih atas partisipasi sahabat. anda telah tercatat sebagai peserta giveaway pertama rumahmauna “anakku sayang”.

    membaca tulisan mbak seperti membaca tulisan dan kisahku sendiri mbak.

    [Reply]

    Bangauputih Reply:

    alhamdulillah terima kasih kalau sudah tercatat, :)

    [Reply]

  9. cerita budi says:

    dan saya selalu salut dengan Ibu RT, di tinggal 1 hari saja saya ngasuh anak udah kelimpungan

    [Reply]

    Bangauputih Reply:

    hhehe persis si daeng :D

    [Reply]

    Bdy Reply:

    Kemungkinan besar semua bapak2 begitu yach…belum si kakak bilang, Yah…gimana cara bikin ini…. adiknya bilang, Yah…mau pipis, belum telp bunyi., waaaaahhhhhh susahhhhhhhhh

    [Reply]

    Bangauputih Reply:

    hehe, benar banget tuh bang, kok persis yah.

  10. yuniarinukti says:

    Begitulah Mbak senang dan susahnya mengurus anak, tapi dengan bersusah-susah seperti itu Insya Allah klo sudah besar mereka pasti mengerti dan tahu betapa kuat dan sabarnya menjadi seorang ibu…

    [Reply]

    Bangauputih Reply:

    iya mba, memang sekarang susahnya dulu, semoga menuai seang2nya kemudian. mereka jadi anak yg saleh-saleha saja sudah cukup buat saya :D

    [Reply]

  11. ajeng rismaniar says:

    ga kebayang deh mbak……punya buah hati yg lgi aktif2 nya…ngurusinnya sendiri lagi….Subhanalloh,,,,

    [Reply]

    Bangauputih Reply:

    hehe, dibayangin aja dah (niru bang maruk di sampeyan muslim) hehehe

    [Reply]

  12. Necky says:

    Emang om enha itu trainer sejati…dari kecil aja dia bisa memberikan motivasi kepada anak2….salut om….

    [Reply]

    Necky Reply:

    maksud hati mau kasih komentar di kolom komentar om enha….hehehehe
    bagi saya ….full time mother adalah pekerjaan sepanjang 24 jam sehari tanpa hari libur…

    [Reply]

    Bangauputih Reply:

    iya mas, sepakat :D

    [Reply]

  13. hajarabis says:

    hhaha .
    lucu yya :)
    bisa jadi media penghibur buat kita .
    salam kenal
    http://www.hajarabis.com

    [Reply]

    Bangauputih Reply:

    salam kenal balik :D

    [Reply]

  14. kakaakin says:

    Huhu… diriku jadi sangat ingin merasakan sensasi jumpalitan itu… :D
    Semoga sukses pada giveaway ini ya…

    [Reply]

    Bangauputih Reply:

    hehe, semoga segra dijemput jodohnya yah kak :D

    [Reply]

  15. NINE FROM THE LADIES 2011 (#1) « The Ordinary Trainer writes … says:

    [...] Ridha Bangau Putih : Mama Fira, Azhar, Faiz : MENGASUH ANAK Bu Bangau selalu menulis postingannya dengan panjang.  Namun entah mengapa saya selalu terpaku [...]

  16. Nia Angga says:

    Subhanallah… sungguh salut. di usia yang lebih muda dari saya, tapi benar-benar sungguh dewasa. mantappp

    *jadi malu inget diri sendiri :(

    [Reply]

    Bangauputih Reply:

    ah mba, itu adalah naluri seorang ibu, pengen bantu2 suami biar keperluan anak2 tercukupi :D

    [Reply]

  17. kiki says:

    Semangat banget ya gedein anak. Semoga tidak lekas pudar sampai mereka besar nanti.

    [Reply]

    Ridha Reply:

    amiiin, :D

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>