Subscribe to RSS feed

«

»

Jan
23

Saat Harus Kehilangan

Boleh jadi semua pernah merasakan kehilangan. Entah itu benda kesayangan, orang-orang terkasih atau bahkan sekadar sesuatu yang selama ini tak pernah kita anggap penting sebelum ia pergi meninggalkan kita dengan cara yang berbeda-beda. Rasanya sedih dan terkadang menyakitkan bukan? apalagi jika kita merasa tidak belum siap untuk kehilangan. Seperti yang kualami saat masih duduk di bangku SMA, 10 tahun silam…

Palopo, Selasa
12 Maret 2002, 06.00 WITA
Pagi itu aku dan mama sibuk mengepak-ngepak pakaian dan perlengkapan yang akan kubawa untuk berangkat ke Makassar mengikuti lomba karya ilmiah dan siswa teladan sepropinsi Sulawesi-Selatan. Semua berjalan seperti biasanya. Mama sibuk menyiapkan bekal dan berbagai cemilan buatannya sendiri sementara aku sendiri sibuk memprotes mama karena apa yang dipersiapkannya seolah-olah aku akan pergi selama sebulan, padahal hanya beberapa hari saja. Aku sebagai siswa yang terpilih mewakili kabupaten sebagai siswa teladan merasa agak malu membawa bekal begitu banyak padahal semuanya sudah ditanggung oleh pihak sekolah. Aku merasa keberatan mengikuti kemauan mama karena tak ingin malu ditertawakan teman-teman yang juga ikut untuk melakukan kunjungan ke Universitas Negeri Makassar, atas undangan dosen dan mahasiswa biologi yang ingin mengetahui temuan-temuan baru yang kami tuliskan dalam karya ilmiah. Saat aku memprotes keras, mama sempat berujar, “jangan begitu, kan bagus kalau banyak makanan. Teman-teman kamu juga pasti suka. Daripada beli di jalan, kan sayang uangnya. Mama juga khawatir nanti tidak bisa buatkan lagi untuk kamu nak!”

Sedikit merasa aneh saat mendengar kalimat mama yang terakhir itu. Tak ingin membuatnya kecewa karena telah susah payah membuatnya, terpaksa dengan senyum kecut, saya memasukkan semua bungkusan makanan itu ke dalam tas pakaian. Tak ingin dilihat oleh teman-teman, kecuali kalau nanti mereka memintanya. Mamaku memang terkenal diantara teman-temanku sebagai mama yang jago masak. Setiap kali pulang sekolah, teman-temanku selalu menyengaja mampir di rumah hanya untuk merasakan masakan mama. Rumahku memang tak pernah sepi dari makanan dan cemilan lezat. Ada saja yang dibuat mama, walau hanya dibuat dari bahan-bahan sederhana dan kebanyakan diambil dari kebun di belakang rumah. Tapi ajaib, ditangan mama berubah menjadi makanan lezat tiada tara.

Setelah semua siap, aku masih duduk menunggu telepon dari guru. Kami bersepakat untuk berkumpul di rumah salah satu temanku. Namanya Ega. Mamanya menawarkan kepada guru yang akan mendampingi kami untuk memakai mobil yang dikemudikan oleh omnya Ega sendiri berangkat ke makassar sekaligus dipakai selama di sana nantinya. Selama menunggu panggilan, mama tak henti-hentinya menasihatiku ini dan itu. Berkali-kali mengingatkan aku untuk mengurus diri sendiri dengan baik. Belajar mengurus Abi (bapak) dan kedua saudaraku yang kesemuanya laki-laki. Nasihat yang sangat aneh bagiku. Biasanya saat mama menasihatiku hal yang sama, bicaranya sedikit tegas dengan ekspresi wajah pura-pura marah, lalu aku akan tertawa dan mama juga akan ikut tertawa. Namun kali ini mama begitu berbeda. Bahasanya begitu lembut, sorot matanya juga begitu teduh sampai aku merasa tak sanggup berlama-lama melihat wajahnya. Beberapa kali mama berusaha memperbaiki letak jilbabku yang kuanggap sudah rapi dan setiap kali itu, aku berusaha menepis dan mengatakan “aduh, jangan dirusakin lagi dong ma! Sudah rapi kok!!”
Biasanya beliau pasti akan mendorong pelan kepalaku, atau mencubit pipiku dengan bercanda karena bersikap seperti itu. Tapi saat itu, mama hanya diam, tersenyum menatapku. Seolah-olah aku akan pergi dalam waktu lama. Bodohnya aku, tak melihat tanda itu.

08.45 WITA
Telepon rumah berdering. Guruku bilang semua teman sudah berkumpul di sana, tinggal menunggu aku saja. Abiku yang juga sudah siap mengantarku, mengangkat tas pakaianku ke motor. Aku bergegas meraih dan mencium punggung tangan mama. Tapi mama menarikku ke dalam pelukannya. Mengecup kepalaku yang terbungkus jilbab juga pipiku beberapa kali. Aku membalas memeluknya erat. Dan mama menangis. Andai waktu itu aku sudah bisa berbahasa gaul seperti anak SMA saat ini, tentu aku akan bilang “ih, mama lebay deh!”. Ini bukan pertama kali aku pergi meninggalkan rumah untuk beberapa hari. Aku pernah mengikuti kemping dakwah dan lomba MIPA tapi beliau tidak bersikap sedemikian rupa. Abiku sampai harus memencet klakson motor beberapa kali baru mama melepaskan pelukannya. Kukatakan padanya kalau aku tidak lama, berjanji bahwa aku akan baik-baik saja, dan aku akan menang dan membawa pulang piala untuk mama. Beliau tersenyum, senyumnya indah sekali.

Aku bergegas menuju ke motor, duduk membonceng di belakang Abi. Aku berbalik, kulihat mama masih berdiri di pintu. Dengan airmatanya yang masih mengalir ia tersenyum melambaikan tangannya kepadaku. “Hati-hati yah nak! Ingat pesan mama!!!” Aku tersenyum mengangguk. Kalimat itu yang kudengar terakhir saat motor sudah berjalan beberapa meter.

10.00 WITA
Kami sudah sejam melakukan perjalanan. Dalam mobil Kijang itu, kami duduk bersempit-sempitan. Jumlah kami yang berangkat waktu itu 9 orang ditambah ibu guru dan si supir. Sepanjang perjalanan, kami terus tertawa. Tak jarang kami berkelakuan jahil, saat melihat dua orang berboncengan mesra yang menurut pandangan kami bukan suami istri, maka saat mobil berhasil berdampingan atau bahkan  mendahului mereka, kami akan menurunkan kaca jendela mobil dan berteriak, “wuuuuuuu, mana surat nikahnya???” sambil tertawa ngakak. Benar-benar usil.

19.00 WITA
Kami tiba di kota Makassar. Karena tidak ada yang tidur saat perjalanan, maka setibanya kami merasa benar-benar kelelahan. Ada dua kamar besar yang disediakan untuk kami di rumah teman guru kami. Kami kembali berebutan memilih kamar. Selepas makan malam dan shalat isya, kami tertidur pulas.

Makassar, Rabu
13 Maret 2002
Aku berdua bersama guruku berangkat ke Universitas Hasanuddin untuk mengikuti lomba siswa teladan. Sementara teman-temanku masih tidur-tiduran di rumah. Alhamdulillah hari pertama lomba itu semua diberi kemudahan. Aku lolos menuju tahap akhir, wawancara dan tanya jawab soal secara langsung. Untuk mempersiapkan diri keesokan harinya, guruku segera mengantarku pulang kembali ke rumah. Aku lupa, belum memberi kabar pada mama. Maklum saja, saat itu saku belum mengenal hp. Teman-temanku yang termasuk anak orang kaya pun masih satu dua saja yang punya. Itu pun modelnya yang masih sangat jadul. Sementara tak ada wartel yang kutemui di dekat rumah teman guruku itu. Terpaksa aku memendam keinginan untuk mengabari mama.

Makassar, Kamis
14 Maret 2002
Hari itu, aku berhasil menjadi runner-up atau urutan kedua siswa teladan sepropinsi Sul-Sel. Aku memang  sedikit kecewa, karena yang menjadi juara dan mewakili propinsi Sul-Sel nilainya hanya selisih 1 poin denganku. Tapi aku tetap bahagia, setidaknya aku berhasil menyisihkan puluhan siswa yang berasal dari sekolah-sekolah terbaik dan unggulan. Dan tentu saja, aku tetap bisa membuat mama bangga karena aku pulang dengan piala.
Selepas lomba, aku dan teman-teman yang sudah menungguku di mobil segera berangkat menuju ke UNM untuk menyerahkan karya ilmiah kami untuk dinilai. Sembari menunggu, kami berkeliling kampus dan mulai  membayangkan diri menjadi mahasiswa dari salah satu universitas terbaik di Makassar itu.

Sembari menunggu hasil penilaian, Bu Ma’rufi mengajak kami ke perpustakaan kota. Kami tercengang-cengang melihat ribuan buku berjejer di sana. Segala macam, mulai dari buku pelajaran sampai buku cerita, mulai dari yang baru sampai yang sudah usang ada di sana. Dan yang lebih membahagiakan lagi, di tempat itu ada 4 mesin fotokopi yang disediakan untuk siapapun yang membutuhkan kopian dari buku yang dicarinya. Dan harga kopiannya sangat murah dibanding dengan harga yang semestinya. Tak mau ambil waktu, aku segera mencari beberapa buku bacaan kesukaanku, Karya Ahmad Tohari dan Ismail Marzuki jadi pilihan. Aku juga memilih buku ensiklopedia lengkap untuk kubaca selama berada di perpustakaan itu. Saat asyik membaca, lagi-lagi aku teringat mama. Aku belum memberinya kabar. Ingin meminta tolong pada guruku, tapi aku merasa segan. Akhirnya aku berdoa saja dalam hati agar Allah yang menyampaikan pesanku bahwa aku sedang sangat bahagia dibawa ke tempat seperti itu.

Makassar, Jum’at
15 Maret 2002
Pagi itu kami diberi kabar gembira. Dua dari karya tulis ilmiah kami terpilih untuk dilombakan di tingkat perguruan tinggi di IPB, Institut Pertanian Bogor. Aku merasa senang tak terkira. Begitupun dengan teman-teman terutama guru kami. Sebagai hadiah, suami dari ibu guru kami memberi kami waktu seharian untuk berjalan-jalan kembali ke universitas hasanuddin, melihat-lihat berbagai fakultas dan fasilitasnya. Kalau kemarin kami menghayal menjadi mahasiswa UNM, hari itu kami menghayal menjadi mahasiswa UNHAS. Universitas terbaik di Makassar saat itu. Tujuan utama para siswa di sulawesi selatan. Saat sedang duduk di bangku di salah satu ruang fakultas kedokteran aku bergumam “Ma, ini keinginanmu kan? agar kelak aku bisa duduk di salah satu bangku ini?” Lagi-lagi, mama selalu ada dalam bayangan dan ingatanku.

Sabtu, 16 Maret 2002
07.00 WITA
Pagi itu aku tiba-tiba dilanda sakit gigi yang amat parah. Rasanya semua gigiku serasa mau lepas saja. Sakitnya tak tertahankan. Padahal tak ada masalah pada gigiku. Tapi aku berusaha mendiamkannya. Bu Ma’rufi dan suaminya pak Ilyas memberitahukan bahwa kami akan berkeliling ke beberapa mall di makassar seharian itu sebelum kembali ke kota palopo besok pagi. Teman-temanku menyambut gembira dan aku tersudut di kamar mandi, teriak dalam hati memanggil-manggil mama.

Aku pernah dengar, salah satu obat sakit gigi adalah berjalan kaki cepat-cepat. Hari masih pagi, kuberanikan diri berjalan keluar rumah. Salah satu temanku, Riyani mengikutiku. Ternyata ia ingin mencari wartel. Kami berdua berjalan cepat-cepat dan terus melirik ke kanan kiri. Saat mata kami tertumbuk pada salah satu rumah yang bertuliskan WARTEL, kami berdua terlonjak gembira, bergegas masuk ke salah satu bilik wartel yang saat itu masih kosong semua. Kutekan no.telepon rumah. Tak sabar mendengar suara mama.

Aku : Assalamu’alaikum.
Mama : Wa’alaikum salam sayang. Bagaimana kabarmu nak? Mama rindu. Aku tertawa geli mendengarnya. Rasa nyeri di dalam mulutku tiba-tiba sirna.
Aku : Ma, maafkan ridha ya, cuma juara 2. Gagal mewakili propinsi ma.
Mama : Alhamdulillah nak. Sudah syukur itu. Kapan pulang? mama rindu.
Aku : Ih, mama. Besok katanya, tapi Bu Ma’rufi mau ajak saya ke kampungnya dulu di Soppeng, mau ajak saya ke pemandian air panas dekat rumahnya. Boleh yah ma, tambah satu-dua hari lagi!
Mama : Jangan nak. Langsung pulang saja. Mama sudah rindu sekali. (aneh, beliau tidak pernah bersikap demikian).
Aku : Tapi ma, saya kan belum pernah kesana.
Mama : Lain kali saja nak, besok langsung pulang yah. Oh iya, kamu sudah terima raport tadi, Abi yang ambil di wali kelasmu. Alhamdulillah juara satu lagi nak.
Aku : Iya deh ma. Besok kita kumpul lagi, insyaAllah.
Mama : Ya sudah. nanti kamu bayarnya banyak. Nanti kalau sudah pulang, jaga rumah baik-baik yah sayang. Belajar masak yang benar untuk Abi. Jaga adik dan kakakmu juga, Yah nak. Mama rindu sekali sama kamu. Jangan tinggal-tinggal lagi yah, Assalamu’alaikum nak.
Aku :wa’alaikum salam ma.

Sepanjang perjalanan pulang, aku tercenung mengingat kalimat terakhir mama. Kenapa mama terus  menyebut rindu padaku. berkali-kali. dan pesannya yang aneh itu. Tiba-tiba sakit gigiku kambuh lagi. Kali ini nyerinya sakit tak terperi. Temanku Riyani yang menanyakan kondisiku, segera melaporkan ke bu Ma’rufi.

12.00 WITA
Bu Ma’rufi dan suaminya mengajak kami makan siang di sebuah warung makan. Aku yang sibuk melawan rasa sakitku hanya bisa diam, menggelengkan kepala ketika disodorkan daftar menu makanan. Mengetahui kondisiku, Pak Ilyas segera membeli obat sakit gigi di apotik seberang jalan. Namun setelah kuminum, tak ada efeknya sama sekali. Aku hanya meminta garam kasar dan segelas air untuk berkumur pada pemilik warung lalu memilih duduk meringkuk di dalam mobil.

19.00 WITA
Setelah mengunjungi beberapa mall dan toko pakaian, sandal, dan sepatu di kota Makassar, mobil meluncur menuju pantai losari. Karena ini malam terakhir kami, maka guru kami ingin kami menikmati makanan apa saja yang kami inginkan yang disediakan para pedagang makanan di sepanjang pantai itu.
Aku masih terus meringis. Aneh sekali, aku yang tak pernah merasakan sakit gigi tiba-tiba kesakitan tanpa sebab yang jelas. Ingatanku tiba-tiba berlari ke masa lalu dimana aku pernah mendengar salah seorang kerabat bicara, bahwa salah satu tanda bahwa ada orang dekat kita yang akan meninggal adalah kita akan diberi mimpi gigi tanggal. Entah kenapa pikiranku terhenti disitu. Aku sadar tidak sedang mimpi gigi tanggal, tapi sedang kesakitan luar biasa karena si gigi. Tapi pikiran itu entah kenapa tidak juga mau pergi.

20.00 WITA
Ega, satu-satunya temanku yang mempunyai handphone tiba-tiba berlari ke arahku. Aku terkejut, teman-teman yang lain juga melirik ke arahku. Ega memaksaku untuk menerima hp yang disodorkannya padaku. Terdengar suara ribut-ribut di sana.

Dia : Halo. ini nak Ridha?
Aku : Iyya. Ini siapa ya?
Dia : Saya Ita, tantenta Ega. Begini nak, jangan kaget ya, mamamu masuk rumah sakit nak.
Aku : Apa? Siapa?
Dia : Mamamu nak. Sekarang di UGD. Doakan yah nak biar bisa segera sembuh.
Aku : Maaf tante, saya kurang jelas dengarnya.
Dia : Mamamu nak. Mamamu baru saja masuk rumah sakit, sekarang ada di UGD. Doakan yah nak.
Sakit gigiku mendadak hilang, kepalaku berat, mataku berkunang-kunang, aku jatuh tak sadarkan diri.

Aku masih ingat, saat mama kena struk 3 tahun silam. Saat itu aku masih duduk di bangku kelas dua SMP. Badan mama mati sebelah yaitu sebelah kiri. Wajahnya miring. Tak bisa bicara, sungguh menyedihkan. Dua bulan mama di rumah sakit. Tiap hari, aku, kakaku dan adikku bergantian menggerakkan kaki dan tangan mama berpuluh-puluh kali. Saat itu dokter sudah angkat tangan dan bilang hanya Allah yang bisa membuat mama normal kembali. Tapi kuasa itu datang, mama sembuh seperti sedia kala. Normal seperti orang yang tak pernah terkena struk. Mama bahkan bisa kembali bermain tennis lapangan. Dokter ahli syaraf yang mengobati mama, hanya bisa tercengang dan menyebut namaNya. Tak percaya, karena selama berpuluh tahun mengabdikan diri sebagai dokter ahli syaraf, baru mama sajalah pasiennya yang bisa sembuh seperti sedia kala.

Tapi sesaat sebelum kami membawa pulang mama, dokter itu berpesan pada kami, bahwa mama tidak boleh terjatuh lagi. Mama tidak boleh  masuk rumah sakit dengan keadaan yang sama. Kami harus meningkatkan kewaspadaan terhadapnya. Saat mama mandi pun tidak boleh mengunci pintu kamar mandi. Kamar mandi selalu kami sikat bergantian agar tak ada licinnya sama sekali. Begitupun seluruh lantai rumah. Terakhir dokter mengulang kalimat yang sama yang membuatku langsung pingsan seketika saat menerima telepon dari tante Ita. “Jangan sampai mama kalian masuk UGD lagi! Akibatnya bisa fatal. Ingat itu yah anak-anak!”

Saat tersadar, aku sudah berada dalam mobil. Pak Ilyas dan Bu Ma’rufi berinisiatif menghiburku. Mereka mengajak kami ke Twenty One menonton film. Tapi aku sudah mati rasa. Yang ada di kepalaku hanya hitam dan putih yang terus berkelebat. Mereka mungkin  kebingungan dengan reaksiku yang berlebihan. Mereka tak tahu, peringatan dokter yang terus berdentam di telingaku itulah yang menyiksaku. Air mataku terus mengalir, wajahku sembab, mataku bengkak. Kedua guruku itu terpaksa memapahku saat keluar dari Twenty One menuju mobil. Kulihat orang-orang menatapku dengan pandangan aneh, tapi aku sama sekali tak peduli.

22.00 WITA
Aku bergegas bersih-bersih diri, dan menunaikan shalat isya. Saat itu aku hanya bisa terus berdoa, memohon agar Allah menyelamatkan mamaku sekali lagi. Aku sadar, permintaanku terlalu berlebihan. Aku tiba-tiba mengubah doa dan keinginanku. Aku tak henti meminta agar Allah setidaknya mengizinkanku melihat mama tersenyum kepadaku sekali saja. Hanya sekali saja, tidak lebih karena aku tahu betul, keadaan mama pasti sangat parah. Mama sedang di UGD dan itu yang selama ini tak pernah kami inginkan terjadi lagi. Aku terus berdoa dalam tangisanku. beberapa teman berusaha menghiburku tapi aku meminta mereka membiarkan aku sendiri dan membantuku memanjatkan doa untuk kesembuhan mama. Kubaca surah Yasin, beberapa kali hingga aku kelelahan dan tertidur di atas sajadah.

Ahad dini hari, 02.00 WITA
Aku melihat mama tersenyum melambaikan tangannya padaku. Persis saat aku akan berangkat ke Makassar beberapa hari lalu. Tapi Ibu tampak sangat berbeda. Wajahnya begitu cerah, senyumnya begitu indah, memakai pakaian putih bersih. Beliau terlihat sangat cantik dan anggun. Aku ingin berlari ke arahnya, tapi seseorang tiba-tiba mengguncang-guncang tubuhku berkali-kali. Aku terkesiap. Pak Ilyas, suami dari bu Ma’rufi yang ternyata berusaha membangunkanku. Ia lalu memintaku menyebut nomor telepon kost-kostan kakakku yang sedang kuliah di UNHAS. Katanya kakakku belum tahu keadaan mamaku, jadi ia ingin menghubunginya dan memintanya segera pulang kampung. Bu Ma’rufi membantuku bangun. Ia tampak menyembunyikan wajah dan berusaha agar tidak bertemu muka denganku. Beliau hanya bilang agar aku segera siap-siap untuk berangkat pulang ke palopo. Melihat jarum jam baru menunjukkan pukul dua dini hari membuatku sedikit bingung. Pak Ilyas yang seperti mengerti dengan kebingunganku mengatakan dengan singkat, agar aku bisa segera bertemu dengan mama. Selepas wudhu, kudirikan shalat tahajjud, memohon agar mamaku bisa bertahan setidaknya sampai aku tiba di sana.

Sebelum berangkat sang pemilik rumah menyiapkan sarapan dini hari untuk kami. Teman-temanku sama sekali tak bergairah untuk mencicipi makanan itu, begitupun denganku yang benar-benar kehilangan selera makan. Tapi pak Ilyas membujukku agar makan yang banyak. Beliau mengingatkan bahwa sesampainya di sana nanti aku harus menjaga mama jadi tidak akan punya waktu banyak untuk makan. Mendengar kalimat beliau, kutepis rasa tak enak di kerongkonganku. Aku berusaha menikmati sarapan dini hari itu. Bu Ma’rufi berkali-kali menambahkan nasi dan lauk ke atas piringku hingga aku benar-benar merasa kekenyangan.

03.00 WITA
Mobil sudah siap berangkat ke Palopo. Pak Ilyas memintaku duduk di depan bersamanya sementara kedelapan temanku duduk di belakang. Ibu Ma’rufi sendiri mengatakan akan tinggal dulu satu dua hari mengurus kelengkapan karya ilmiah kami yang akan dilombakan di IPB. Saat mobil hendak berangkat, Bu Ma’rufi memelukku erat dan meneteskan air mata. Begitupun dengan sang pemilik rumah. Entah kenapa, aku tiba-tiba berpikir bahwa guruku itu menyengaja tak ikut pulang bersama kami karena tidak siap untuk menerima reaksiku untuk sebuah kenyataan yang sebentar lagi kurasa akan menimpaku.

Sepanjang perjalanan, keadaan dalam mobil hening. Ditambah dengan suasana dini hari yang memang masih sepi. Aku mencoba melirik ke kaca spion, mereka, teman-temanku itu duduk terdiam. Tak ada yang memejamkan mata, tapi mulut mereka terkunci rapat. Saat waktu shalat subuh tiba, semua turun dan shalat berjamaah di salah satu masjid pinggir jalan yang kami lalui. Selepasnya kami melanjutkan perjalanan. Om Andi menyetel kaset album Melly Goeslaw “ada apa dengan cinta” yang keseluruhannya sudah kuhapal saat seharian mendengarkannya waktu perjalanan menuju ke Makassar. Tak sadar aku bernyanyi pelan. Teman-temanku yang dulunya sangat usil menjahili pengendara motor, memilih tetap diam meski suasana jalan sudah mulai ramai.

08.00 WITA
Pak Ilyas menawarkan kami untuk singgah makan coto Makassar sebelum tiba di rumah. Perjalanan masih harus ditempuh selama dua jam. Sebagian teman yang tadi tidak ikut sarapan menyetujui dan sebagian lagi menolak, memilih menunggu di mobil. Pak Ilyas memperlakukanku dengan istimewa. Aku digandengnya memasuki warung. Memintaku memilih yang aku inginkan. Karena aku tak suka hati, ampela dan kulit, maka pak Ilyas memesan coto daging untukku. Aku kembali makan dengan lahap. Tapi begitu keluar dari warung, tiba-tiba saja aku muntah. Semua coto yang masuk tadi, keluar begitu saja. Pak Ilyas memintaku makan kembali tapi aku menolak.

Sepanjang perjalanan yang tersisa, Pak Ilyas mencoba menasihati kami agar selalu bersikap tenang. Agar selalu sedang-sedang saja dalam bersikap. Saat senang, kami diingatkan untuk tidak berlebihan dalam mengekspresikannya. Saat sedih pun juga demikian, kami diingatkan agar tidak berlebihan. Perasaanku semakin kuat. Sesuatu telah terjadi.

09.50 WITA
Mobil sudah memasuki jalanan kompleks Perumahan guru SMA Negeri 3 Palopo tempatku sekeluarga tinggal. Rumah jabatan itu sudah terlihat dari kejauhan. Aku dengan jelas bisa melihat ada bendera putih yang terikat di sebilah bambu yang dipancangkan ke tanah persis depan rumah. Kudengar jelas teman-temanku di belakang menyebut namaku dengan keras. Ada kata “jangan gila, harus kuat dan sabar” yang disematkan dalam kalimat berisi namaku itu.
Mobil terhenti tepat di depan gerbang rumah. Pak Ilyas memegang lenganku kuat.

Dengan kedua mata yang masih bengkak, aku berusaha melihat ke sekeliling. Ada teman-teman kelasku, ada kakak kelas juga adik kelas. Ada guru-guruku, juga kerabat dan tetangga yang memenuhi pekarangan rumah seperti sedang menunggu kedatangan seseorang. Mereka semua berdiri dan menatapku dengan tatapan yang menyedihkan. Tangis pun pecah. Tapi itu bukan tangisku. Tangis itu milik teman-temanku yang saling berpelukan satu sama lain. Air mata yang berusaha mereka tahan selama perjalanan akhirnya keluar tak bisa ditahan lagi. Karena sesungguhnya mereka semua sudah tahu, sebelum aku tertidur semalam di atas sajadah, mamaku sudah berpulang ke Rahmatullah, kembali padaNya.

Abiku dengan langkah gontai menyambutku. Wajahnya juga sembab. Tangannya dibentangkan dan aku segera lari menghambur ke dalam pelukannya. Aku dibawa masuk ke rumah, langsung ke ke kamar dimana mama dibaringkan. Rasanya tak percaya, kemarin pagi, beliau masih tertawa di telepon memintaku segera pulang.

Perlahan kusingkap kain yang menutupi wajah Ibu. Air mataku kutahan agar tak mengenai wajah Ibu. Kucium dahinya, kusentuh bahunya, berusaha membangunkan mama yang seperti sedang tertidur lelap.
“Ridha sudah pulang Ma! Mama bangun dong! Ridha sudah tepati janji untuk pulang. Ridha bawa piala untuk mama. Mama sudah janji kan mau ajarin  Ridha memasak yang enak seperti masakan mama selama liburan ini. Bangun dong Ma!”

Semua yang menyaksikan kejadian itu kembali berlinangan air mata. Ternyata benar tinggal aku saja yang mereka tunggu sebelum memandikan mama. Kakakku yang kukira belum datang justru sudah tiba subuh tadi. Ia tertidur dengan wajah basah di kamarku memeluk adikku.

Semua seperti sudah diatur sedemikian rupa. Sebulan lalu, aku baru saja diajarkan di sekolah cara memandikan, mengkafani dan menyolatkan hingga mendoakan mayat. Ternyata itu adalah salah satu tanda, agar aku bisa turut serta dalam mengurus jenazah mama sebelum dikuburkan. Sambil menangis, kupotong semua kuku-kuku panjangku yang selama ini membuat mama berkali-kali menegurku. Katanya kuku jangan terlalu panjang, nanti wudhunya tidak sempurna kena di jari-jariku. Tapi aku tak pernah menggubrisnya.

Dengan dibantu kedua sahabat mama dan seorang yang memang bekerja sebagai pemandi jenazah yang juga masih kerabat, kami memandikan mama. Tubuhnya bersih sekali. Kata orang, saat Abi menemukan mama tergeletak di dapur, mama dalam keadaan baru saja mandi. Rambutnya basah karena sudah keramas. Tak ada kotoran sama sekali di tubuhnya. Begitu pun dari dalam perutnya. Kerabat yang sering memandikan mayat itu mengatakan kalau ia baru kali ini memandikan mayat yang begitu bersih.

Selepas memandikan mama, aku bertiga dengan Abi dan kakakku mengangkat mama ke kamar. Kami mengkafani beliau lalu dishalatkan di ruang tamu. Abi tidak membawa mama ke masjid karena ruang tamu rumah kami cukup luas. Bisa menampung 50-an orang lebih. Semua yang hadir dan muat di dalam ruangan itu turut menyolatkan mama.

Semua yang hadir juga turut serta ke pekuburan.
Abi, kakak dan omku yang mengambil peran untuk menurunkan jenazah mama ke liang lahat. Aku hanya bisa duduk di tepi memelukku adikku yang terus-terusan menangis memanggil mama. Tiba-tiba saja naluriku sebagai seorang kakak, sebagai satu-satunya wanita dalam keluargaku memaksaku untuk bersikap lebih tegar. Karena aku sadar, semua amanah yang selama ini mama emban di pundaknya telah berpindah ke pundakku. Mau tak mau, siap tak siap, kini akulah ibu di dalam rumahku. Terngiang-ngiang ucapan mama beberapa hari lalu. Pesan-pesannya yang terus ia ucapkan berulang kali. Ya Allah Ya Rabb, ternyata saat bermimpi bertemu mama dengan senyumnya yang terindah itu, sesungguhnya Kau telah membisikkan kabar padaku bahwa mama sudah pergi. Dan aku hanya bisa menangisi diri karena aku masih belum bisa menjadi anak manis mama, mengikuti segala kemauannya yang bertujuan untuk kebaikanku sendiri di masa depan, belum sempat menduplikasi ilmu mama tentang bagaimana menjadi istri dan ibu yang luar biasa, terutama aku belum bisa  memberikan sedikit kebahagiaan untuk mama.

***

Kepada semua sahabatku yang sudah tak memiliki ayah atau ibu atau keduanya, hanya satu yang bisa kita lakukan untuk membuat mereka bahagia. Berusahalah menjadi anak yang saleh salehah. Agar Allah mendengarkan setiap doa kita dan mengampuni segala dosa dan kesalahan mereka saat masih hidup di dunia. Hanya dengan cara itu kita bisa membuat mereka bahagia dan bangga menjadi orang tua kita. Sepuluh tahun hampir berlalu, aku bahkan sudah menjadi seorang ibu, tapi aku tetap seorang anak yang hanya bisa terus berusaha memperbaiki diri untuk meraih predikat anak yang salehah, agar doaku bisa sampai untuk mama.

Dan kepada semua sahabatku yang masih diberikan nikmat kesempatan hidup bersama kedua orangtua, terutama ibu, kumohon, hargailah mereka. Taati segala keinginannya selama itu tidak melanggar perintah Tuhan dan masih dalam batas kewajaran dan kemampuan kita. Buat mereka merasa bahagia dan bangga memiliki kalian sebagai generasi penerusnya. Kenali mereka, cari tahu segala keluh kesah, harapan dan impian mereka yang mungkin belum pernah terwujud, menunggu diri kita sebagai anaknya untuk mewujudkannya.  Jangan pernah menyakiti hati mereka.
Jangan sampai ada sesal di belakang hari. Karena kita selalu akan kehilangan sesuatu, dimana kita merasa tidak belum siap dan itu adalah keniscayaan, karena tak ada seorang pun di dunia ini yang bisa mengetahui kapan Allah akan mengambil milikNya kembali dari sisi kita.

Artikel sepanjang jalan kenangan yang ditulis oleh “Ridha Alsadi” ini dipartisipasikan dalam ‘Saweran Kecebong 3 Warna’ yang didalangi oleh Jeng Soes-Jeng Dewi-Jeng Nia”. Disponsori oleh : “Jeng Anggie, Desa Boneka, Kios108

52 comments

  1. Asop says:

    Masya Allah, panjang sekali…

    Akan saya ingat nasihat Mbak. :cry:
    Sudah banyak sekali dosa2 yang saya perbuat pada ibu saya, pada ayah saya… saya sering mengecewakan mereka, saya pernah berbohong pada mereka, saya pernah bicara dengan nada keras pada mereka… sungguh banyak sekali dosa yang saya perbuat… :cry:

    Tak lupa saya selalu berdoa, semoga kami sekeluarga diberi kesehatan dan semoga kami diberi umur yang barokah oleh Allah SWT. Aamiin. :cry:

    [Reply]

    Bangauputih Reply:

    Lelah membacanya yah mas :D
    Segera meminta maaf dan berusaha memberikan yang terbaik untuk mereka mas. saya alhamdulillah masih punya Bapak (Abi).
    semoga kita sama-sama bisa meraih predikat anak saleh/salehah itu. amin

    [Reply]

  2. Lidya says:

    Allhamdulillah sampai juga ke kotak komen :)
    orang tua saya masih lengkap sudah seharusnya saya menghormatinya ya

    [Reply]

    Bangauputih Reply:

    hehe, maap yah mba. Saya ingin meng-cut disana-sini tapi tetap aja hasilnya panjang.
    ga tahu kalo motong apa ceritanya tetap ngena.
    makasih mba sudah tuntas membacanya. saya sangat menghargainya.

    [Reply]

  3. yuniarinukti says:

    Wiks.. panjang nya.. :P
    koment dulu deh, baru baca postingnya pelan2

    [Reply]

    Bangauputih Reply:

    hehe, kan boleh mba, sepanjang jalan kenangan :D
    makasih banyak yaa mba, sudah bantuin kasih tahu para mak cebong. makasih….

    [Reply]

  4. nh18 says:

    Bu Bangau …
    Saya mengikuti tahap demi tahap … saat demi saat …
    menjelang kepergian Ibunda …

    saya merasakan kesedihan yang mendalam disini …
    saya pun merasakan betapa Bu Bangau sangat mengingat pesan-pesan terakhir almarhumah …

    Beliau pergi dengan bersih …
    Beliau pergi dengan kebanggaan di dada …
    Kebanggaan pada anak gadisnya yang berhasil membawa nama harum bagi sekolah … daerah … juga keluarga …

    Semoga beliau tenang di alam sana …

    Salam dan doa saya Bu Bangau

    [Reply]

    Bangauputih Reply:

    Terima kasih doanya OmNH, :D

    [Reply]

  5. ysalma says:

    kehilangan ibu, kehilangan bapak, rasanya tetap sama ya Rid, ada yang kosong,
    semoga bunda semakin tenang disana melihat anak dan cucunya ya.

    [Reply]

    Bangauputih Reply:

    bener mba, saya paling sedih kalau mau melahirkan. semua selalu ditemani suami dan ibunya, tapi saya, saat melahirkan pertama malah hanya sendirian, kedua dan ketiga alhamdulillah ada suami. tapi tetap sedih, karena ibu tak sempat menyaksikan ketiga cucunya lahir :(

    [Reply]

  6. Erwin says:

    aku nangis mbak, bacanya. :cry:
    saya kadang juga tak sanggup kehilangan orang2 terdekat, tapi cepat2 saya kembalikan ke diri sendiri, bisa jadi beberapa detik, menit, jam, … kita hanya nunggu giliran.
    Semoga kita selalu waspada jika sewaktu2 sang maut menghampiri kita.

    Salam…

    [Reply]

    Bangauputih Reply:

    iya mba, kita ini hanya sedang menunggu giliran
    semoga kita selalu siap, amin

    [Reply]

  7. Pakde Cholik says:

    Semoga arwah beliau diterima di sisi Allah Swt. Amin
    Saya juga pernah merasakan seperti itu ketika dinas di Balikpapan nduk.

    Semoga nduk diberi kesehatan,kesejahteraan dan kebahagiaan lahir-batin.

    Salam hangat dari Surabaya

    [Reply]

    Bangauputih Reply:

    Terima kasih doanya pakdhe :D

    [Reply]

  8. Dewifatma says:

    Memang benar yah, sepanjang jalan kenangan..
    Tapi aku membaca sampai tuntas dan merasakan sakit di tenggorokan karena tersumbat haru…

    Mba Ridha, semoga semua doa yang dikau panjatkan untuk mamamu diijabah oleh-Nya. Semoga beliau berbahagia di alam sana karena mempunyai anak dengan cinta luar biasa sepertimu.. *mewekaku*

    Dengan bangga, kami catat sebagai peserta dengan artikel terpanjang.. :)
    Terima kasih atas partisipasinya ya… :)

    [Reply]

    Bangauputih Reply:

    Makasih mba atas doanya. Artikel saya tidak melanggar aturan kan mba.

    [Reply]

  9. Ari Tunsa says:

    Hmm…. arti kehidupan.
    ibu memang seseorang yang slalu hadir di balik kesuksesan maupun kegagalan kita. slalu senang jika melihat anaknya berhasil dan menyuport jika anaknya gagal. tapi kita sering tak menghargainya :(
    meski sudah tiada, kita masih bisa berbakti kepada mereka mbak.. dg mendoakannya
    salam

    [Reply]

    Bangauputih Reply:

    iya dek, cuman itu satu2nya jalan buat orang2 yang sudah tak punya orangtua, mendoakan mereka.

    [Reply]

  10. achoey el haris says:

    Saya teringatkan bahwa begitu banyak dosa yg saya lakukan pada ORTU saya

    Wah ternyata mbak cerdas juga ya ketika mudanya, ya sekarang juga :)

    [Reply]

    Bangauputih Reply:

    kang Achoey masih beruntung, masih bisa membuat mereka tersenyum bahagia, lakukan, jangan pernah menunda untuk membuat mereka tersenyum bahagia dan bangga memiliki kita

    [Reply]

  11. Mak Cebong 2 says:

    Mbak…biar panjang tp aku baca semuanya…hiks nangis terus baca postingan ini…inget ibu sendiri hiks….aku juga ngga lihat waktu ibuku menghebuskan nafas terakhir….padahal beberapa jam sebelumnya ibuku minta aku ke RS…..nyeseeel banget ngga buru2 datang ke RS….

    terimakasih mbak ridha atas partisipasinya…sdh tercatat sbg peserta….

    [Reply]

    Bangauputih Reply:

    iya mba, mari sama-sama berdoa agar beliau diangkat derajatnya di sisiNya, amin
    makasih mba, artikel panjang saya sudah dicatat sebagai peserta

    [Reply]

  12. Penghuni 60 says:

    semoga menang kontesnya ya…
    BTW, apa kabar sobatku Bangau Putih, terbang kmana saja kah dikau, sehingga jarang hinggap di Penghuni 60?

    [Reply]

    Bangauputih Reply:

    maaf mas wawan, saya mmg jarang bewe, kemaren habis sibuk pindah rumah, sebulanan ga update

    [Reply]

  13. Mabruri says:

    kehilangan orang yang kita sayang?
    Almarhumah adik yg baru 10 bulan telah pulang, sampai saat ini msh sering begitu terasa kehilangan.
    Ga bisa komen apa2 lah, yang penting kita yang masih ada, selalu mendoakan mereka.
    Semoga mereka2 yang telah mendahului kita, kelak kita dikumpulkan lagi bersama mereka di Jannah-Nya.. aamiin

    [Reply]

    Bangauputih Reply:

    amin ya rabbal alamiin
    semangat ya mas :D

    [Reply]

  14. Lyliana Thia says:

    Mbak Ridha, aku baca semuanya… nangis aku mbak…

    sampe dingin tanganku ini… deg2an… takut akan sad ending-nya…

    Ya Allah… aku msh punya kedua orangtuaku,..

    tapi aku nggak berani membayangkan apa yang akan aku rasakan jika hal ini terjadi padaku…

    sampe speechless mau komen apa lagi… :-(

    semoga beliau bahagia selalu disisiNya.. Amin…

    [Reply]

    Bangauputih Reply:

    amiin, bahagiakan mereka selagi masih diberi kesempatan mba :D

    [Reply]

  15. Nia Angga says:

    Hiks, aku baca ceritanya sampai menitikkan air mata.
    Semoga ????? memberikan tempat terbaik buat mama ya..
    Amien

    [Reply]

    Bangauputih Reply:

    aminnn, makasih mba Nia

    [Reply]

  16. Tarry KittyHolic says:

    Terharu bacanya mbak….
    Bisa jadi renungan buat saya agar lebih bisa menghormati dan menghargai ortu selagi beliau masih ada. Kalo saya di posisi mbak Ridha, mungkin saya ga bisa setegar mbak Ridha :)

    [Reply]

    Bangauputih Reply:

    hmmm, saya itu hampir stress juga sebenarnya mba, mba pasti bisa membayangkan gimana rasanya kehilangan saat kita sama sekali tidak siap

    [Reply]

  17. adizone23 says:

    Sedih… Terharu… saya membaca tulisan mbak ridha…
    sadar kalo saya belum bisa membahagiakan orang tua sama sekali…
    malah banyak berbuat salah pada kedua orang tua.

    [Reply]

    Bangauputih Reply:

    bahagiakanlah mereka selagi sempat mas :D

    [Reply]

  18. Iqoh says:

    Subhanallah…benar-benar masih terekam dengan baik yang mba setiap detailnya meskipun sudah 10 tahun berlalu…

    Semoga beliau diberikan tempat terindah di sana…Amiiin… :)

    Alhamdulillah masih memiliki seorang ibu, Allah masih memberikan kesempatan untuk berbuat sebaik mungkin untuk beliau.

    [Reply]

    Bangauputih Reply:

    saya nnggak bisa ngelupain mba, rasanya peroh banget, harus jauh di saat2 terakhir mama

    [Reply]

  19. agung says:

    Subhanallah mbak ceritanya sungguh menyentuh
    Semoga amal ibadah Ibunda tercinta diterima ALLAH swt.
    Aku jadi teerharu mbak
    Semoga aku bisa meneladani kisah mbak
    Ijin Share yas
    alam

    [Reply]

    Bangauputih Reply:

    silahkan mas :D

    [Reply]

  20. narno says:

    mengingatkanku pada suatu pagi saat siap-siap mau berangkat sekolah, batal karena ayah kami dalam beberapa menit kemudian meninggalkan kami untuk selamanya

    [Reply]

    Bangauputih Reply:

    hmmm, ajal memang tak pernah ditau kapan datangnya mas, tapi masih ada ibu kan? berbaktilah padanya sesegera mungkin mas

    [Reply]

  21. della says:

    Subhanallah Ridha,
    aku bacanya sampi terisak-isak, apalagi yang mengalami sendiri, ya..
    insya Alloh ibunda khusnul khotimah, apalagi punya anak sebaik Ridha :)
    Doaku buat bunda.

    [Reply]

    Bangauputih Reply:

    terima kasih mba della :D

    [Reply]

  22. Mak Cebong 3 says:

    Mba Ridha, maapkan mak Cebong 3 baru datang

    Ya Allah, nangis gw bacanya Mba. Dan terima kasih sudah diingatkan *betapa banyaknya dosa saya sama Mama*. Insya Allah Mama Mba khusnul khotimah. Amien

    Thanks udah berbagi kisah ini. Thanks atas partisipasinya dalam Saweran Mak Cebong

    [Reply]

    ridha alsadi Reply:

    amin…
    sama-sama mba. makasih dah diterima sebagai peserta.

    [Reply]

  23. puchsukahujan says:

    postingan mbak Bangau selalu puanjangggg….. :D

    [Reply]

    Bangauputih Reply:

    jadi males bacanya yah mba, hehe
    saya nggak bisa nulis singkat sih
    karena apa yang ingin diceritakan juga emang ga bisa disingkat.
    klo temanya beda, mungkin bisa pendek2 juga mba Puji :D

    [Reply]

  24. kakaakin says:

    Hiks… Sedih banget pas baca pesan2 terakhir beliau…
    Seperti sudah merasa akan ‘dijemput’ ya…

    [Reply]

    Bangauputih Reply:

    saya pernah dengar, orang yang akan meninggal sebenarnya menyadari bahwa waktunya sudah dekat namun ia tak dapat membahasakannya sehingga terkadang juga kita lihat dari sikapnya yan mengalami perubahan. dan itu hanya kita akan sadari selepas dia meningalkan kita, kita baru menyadari berbagai tanda itu. makasih mba dah berkenanmembaca artikel saya.

    [Reply]

  25. tank top says:

    bagus tulisannya…so touchy…makasih udah share ya…salam kenal

    [Reply]

    Bangauputih Reply:

    terima kasih mba :D
    salam kenal balik

    [Reply]

  26. Resep masakan says:

    saya kagum sama tulisan nya, salam kenal aja

    [Reply]

    Bangauputih Reply:

    salam kenal balik :D

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>