Subscribe to RSS feed

«

»

Feb
21

Karena Dia Adalah…

Setiap malam, saat berbaring di sisi lelaki yang telah sekian tahun menjadi labuhan cintaku, aku selalu merenung dalam diam. Sebuah pertanyaan besar selalu menghampiriku, benarkah dia yang ditakdirkan menjadi cinta sejatiku yang tak hanya akan mendampingiku di dunia ini tapi juga nanti di akhirat sana?

Pernah suatu ketika saat aku kembali mengucap lirih tanya yang selalu berkecamuk di kepalaku sembari memperhatikan setiap lekuk wajahnya yang begitu tenang dalam tidurnya, tiba-tiba ia terbangun. Keterkejutanku membuatnya tersenyum dan tiba-tiba berkata, “Hidup, Jodoh, rezeki, dan kematian itu sudah diatur sedemikian rupa oleh Tuhan. Tapi kita ada di sini, dipersatukan oleh tali suci yang mengikat kuat itu karena pilihan kita sendiri. Semua punya andil, karena itulah yang menandakan Tuhan Maha Adil. Jadi tak usah ditanyakan lagi yah sayang!”

Yah, memang aku merasa sedikit bodoh masih mempertanyakan hal itu setelah kami hidup bersama bahkan telah dikarunia putra-putri. Tapi mengingat bagaimana sejarah pertemuan kami sebelum kami bersama dulu, rasanya apa yang kupertanyakan itu masih sangat wajar.

Saat itu kami sama-sama masih berseragam putih abu-abu. Masih kuingat dengan jelas, saat sosok lelaki bertubuh tinggi tegap agak kurus itu berjalan tertunduk sehingga tak sadar menabrakku. Tidak ada adegan sama-sama menunduk berusaha mengambil buku yang berserakan lalu kedua tangan saling berebutan hingga akhirnya bersentuhan, hingga saling berpandangan dimana panah asmara tertuju pada satu sama lain dan berakhir dengan senyuman. Yah semua itu hanya ada pada salah satu pariwara yang sering wara-wiri di layar kaca, atau bahkan adegan monoton yang sering ditampilkan di sinetron-sinetron remaja pertelevisian kita.

Yang ada hanyalah saat itu ia tergesa-gesa mengambil barang miliknya sendiri yang terjatuh sambil mengucap maaf dan berlalu begitu saja. Hingga aku mengenalnya sebagai kakak kelas yang dikagumi oleh sahabat baikku. Perlahan kami sering bertemu tapi pertemuan dan pendekatan itu bukan untuk diriku, tapi demi sahabatku yang begitu mengaguminya. Namun tak lama, ia lulus sementara aku dan sahabatku baru naik ke kelas 2. Sejak saat itu kami tak pernah bertemu. Tapi sesekali masih sering berkirim kabar, melalui surat atau berbicara langsung di telepon. Aku masih terus berusaha menjadi penghubung antara mereka sampai aku berhenti saat si dia mengatakan hanya menganggap sahabatku yang memang masih ada hubungan kekeluargaan itu sebagai seorang adik, tak lebih.

Hingga akhirnya kami kembali bertemu di kampus tempat kami sama-sama menimba ilmu. Walau berbeda fakultas, entah mengapa kami selalu saja berpapasan. Kedekatan yang pernah terjadi karena orang lain kembali terulang tapi kali ini bukan lagi demi orang lain. Meski saat itu banyak yang memberi sinyal cinta, atau bahkan datang menawarkan, tapi hatiku tak peduli. Yang kurasakan hati dan cintaku telah memilih jalannya sendiri kepada siapa ia berlabuh. Dan siapa sangka, demikian adanya dengan si dia. Bahkan di saat kami sama-sama belum memakai baju dan toga wisuda, cinta yang suci itu telah bertaut dalam pernikahan, dan semua itu adalah murni karena pilihan hati kami sendiri yang pada akhirnya kami yakini juga sudah merupakan takdir dari yang kuasa.

Si dia benar, aku tak perlu lagi mempertanyakan keberadaannya di sisiku itu hanya karena takdir atau memang karena aku yang memilih. Semua memiliki andil. Tuhan yang maha Adil memang telah menentukan takdir seseorang. Tapi sebelum semuanya terjadi, ada fase dimana kita memiliki hak prerogatif untuk memilih, jalan mana yang ditempuh. Aku memang sudah ditakdirkan untuk menjadi penjaga cinta dari lelakiku, tapi jauh sebelum itu terjadi, aku sendiri yang memilih untuk bertemu, berkenalan, berdekatan sehingga akhirnya menemukan kesamaan dan memutuskan untuk menyatukan hati dengannya meskipun sebenarnya ada banyak pilihan di hadapanku. Begitu pula dengannya.

Semua itu karena Tuhan Maha Adil.
Jadi tak perlu kau tanyakan lagi sahabat, cinta itu takdir atau pilihan,
Karena siapapun si dia,
Dia pasti takdir sekaligus pilihanmu hatimu.
Yakini itu!!!

 

Karena Dia Adalah…

 

Setiap malam, saat berbaring di sisi lelaki yang telah sekian tahun menjadi labuhan cintaku, aku selalu merenung dalam diam. Sebuah pertanyaan besar selalu menghampiriku, benarkah dia yang ditakdirkan menjadi cinta sejatiku yang tak hanya akan mendampingiku di dunia ini tapi juga nanti di akhirat sana?

 

Pernah suatu ketika saat aku kembali mengucap lirih tanya yang selalu berkecamuk di kepalaku sembari memperhatikan setiap lekuk wajahnya yang begitu tenang dalam tidurnya, tiba-tiba ia terbangun. Keterkejutanku membuatnya tersenyum dan tiba-tiba berkata, “Hidup, Jodoh, rezeki, dan kematian itu sudah diatur sedemikian rupa oleh Tuhan. Tapi kita ada di sini, dipersatukan oleh tali suci yang mengikat kuat itu karena pilihan kita sendiri. Semua punya andil, karena itulah yang menandakan Tuhan Maha Adil. Jadi tak usah ditanyakan lagi yah sayang!”

 

Yah, memang aku merasa sedikit bodoh masih mempertanyakan hal itu setelah kami hidup bersama bahkan telah dikarunia putra-putri. Tapi mengingat bagaimana sejarah pertemuan kami sebelum kami bersama dulu, rasanya apa yang kupertanyakan itu masih sangat wajar.

 

Saat itu kami sama-sama masih berseragam putih abu-abu. Masih kuingat dengan jelas, saat sosok lelaki bertubuh tinggi tegap agak kurus itu berjalan tertunduk sehingga tak sadar menabrakku. Tidak ada adegan sama-sama menunduk berusaha mengambil buku yang berserakan lalu kedua tangan saling berebutan hingga akhirnya bersentuhan, hingga saling berpandangan dimana panah asmara tertuju pada satu sama lain dan berakhir dengan senyuman. Yah semua itu hanya ada pada salah satu pariwara yang sering wara-wiri di layar kaca, atau bahkan adegan monoton yang sering ditampilkan di sinetron-sinetron remaja pertelevisian kita.

 

Yang ada hanyalah saat itu ia tergesa-gesa mengambil barang miliknya sendiri yang terjatuh sambil mengucap maaf dan berlalu begitu saja. Hingga aku mengenalnya sebagai kakak kelas yang dikagumi oleh sahabat baikku. Perlahan kami sering bertemu tapi pertemuan dan pendekatan itu bukan untuk diriku, tapi demi sahabatku yang begitu mengaguminya. Namun tak lama, ia lulus sementara aku dan sahabatku baru naik ke kelas 2. Sejak saat itu kami tak pernah bertemu. Tapi sesekali masih sering berkirim kabar, melalui surat atau berbicara langsung di telepon. Aku masih terus berusaha menjadi penghubung antara mereka sampai aku berhenti saat si dia mengatakan hanya menganggap sahabatku yang memang masih ada hubungan kekeluargaan itu sebagai seorang adik, tak lebih.

 

Hingga akhirnya kami kembali bertemu di kampus tempat kami sama-sama menimba ilmu. Walau berbeda fakultas, entah mengapa kami selalu saja berpapasan. Kedekatan yang pernah terjadi karena orang lain kembali terulang tapi kali ini bukan lagi demi orang lain. Meski saat itu banyak yang memberi sinyal cinta, atau bahkan datang menawarkan, tapi hatiku tak peduli. Yang kurasakan hati dan cintaku telah memilih jalannya sendiri kepada siapa ia berlabuh. Dan siapa sangka, demikian adanya dengan si dia. Bahkan di saat kami sama-sama belum memakai baju dan toga wisuda, cinta yang suci itu telah bertaut dalam pernikahan, dan semua itu adalah murni karena pilihan hati kami sendiri yang pada akhirnya kami yakini juga sudah merupakan takdir dari yang kuasa.

 

Si dia benar, aku tak perlu lagi mempertanyakan keberadaannya di sisiku itu hanya karena takdir atau memang karena aku yang memilih. Semua memiliki andil. Tuhan yang maha Adil memang telah menentukan takdir seseorang. Tapi sebelum semuanya terjadi, ada fase dimana kita memiliki hak progeratif untuk memilih, jalan mana yang ditempuh. Aku memang sudah ditakdirkan untuk menjadi penjaga cinta dari lelakiku, tapi jauh sebelum itu terjadi, aku sendiri yang memilih untuk bertemu, berkenalan, berdekatan sehingga akhirnya menemukan kesamaan dan memutuskan untuk menyatukan hati dengannya meskipun sebenarnya ada banyak pilihan di hadapanku. Begitu pula dengannya.

 

Semua itu karena Tuhan Maha Adil.

Jadi tak perlu kau tanyakan lagi sahabat, cinta itu takdir atau pilihan,

Karena siapapun si dia,

Dia pasti takdir sekaligus pilihanmu hatimu.

Yakini itu!!!

 

 

 

 

 

 

22 comments

  1. Ichsan Afriadi says:

    Pada saat ia mengambil barang dan meminta maaf, disa’at itulah Allah menunjukan Jodoh mbak. Salam kenal :)

    [Reply]

    admin Reply:

    hemm,, bener mas
    salam kenal balik

    [Reply]

  2. iydha says:

    betul,,segala apa yang terjadi di dunia ini sudah di atur dan sudah di takdirkan oleh Yang Maha Kuasa..
    mudah-mudahan kalian jadi pasangan sukses dunia & akhirat.. amin

    [Reply]

    ridha alsadi Reply:

    amin, makasih yaaa sahabat

    [Reply]

  3. marsudiyanto says:

    Mencoba meyakini…

    [Reply]

    ridha alsadi Reply:

    jiaaa, belum yakin toh pak Mars, si dia kan pilihan hati sekaligus takdir, si murid spesial :D

    [Reply]

  4. Harmony Magazine says:

    Saya sudah yakin, tapi restu orang tua belum turun… :D

    [Reply]

    admin Reply:

    berdoa mas, biar restunya segara ngalir

    [Reply]

  5. Lidya says:

    harus diyakini dan disyukuri ya mbak pilihan kita

    [Reply]

    ridha alsadi Reply:

    iya mba, diyakini dan disyukuri karena pasti itu yang terbaik untuk kita :D

    [Reply]

  6. masbro says:

    Tulisan yang mengalir manis, cocok buat manten anyar hehe..

    [Reply]

    admin Reply:

    hehe, dinikmatilah masbro

    [Reply]

    masbro Reply:

    Terima kasih..

    [Reply]

    Ridha Reply:

    sama-sama masbro :D

  7. chartini says:

    Permisi, cuman mau share aja nih. ada info lomba bikin artikel. Hadiahnya lumayan ada 2 buah printer laser jet dan voucher. Caranya tinggal like fanpage >> http://www.facebook.com/anugrahpratamacom. Dan ikuti Contest menulis artikelnya.
    Terima kasih

    [Reply]

    admin Reply:

    makasih infonya

    [Reply]

  8. Mabruri says:

    harus bisa meyakini bahwa yang Allah tetapkan itulah yg terbaik. maka dengn sndirinya, kita akan terlarut ke dalamnya, sehingga nantinya akan merasakan betapa indah takdir yg telah Allah tetapkan untuk kita.

    [Reply]

    admin Reply:

    bener mas, meyakini dan mensyukuri :D

    [Reply]

  9. renaldi says:

    wah keren buk :)

    [Reply]

    admin Reply:

    :D

    [Reply]

  10. narno says:

    pasangan yang awalnya teman sejak kecil ya, tiap orang dengan jalannya sendiri-sendiri. ada teman kuliahku yang menikah dengan teman seangkatan ketika ditanya sama teman-teman tak pernah menduga kalau kemudian akan menikah, padahal dulunya pernah tetangga kost dan tak ada perasaan apa-apa, bahkan saya baru bertemu sekali saat taaruf jadilah kemudian menikah

    [Reply]

    admin Reply:

    semoga abadi ke surgaNya yah, amin

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>