Cinta itu seperti apa sih rasanya? Sebuah pertanyaan yang sedikit mengelitik di usia pernikahanku yang menginjak 7 tahun lebih, dan telah dikaruniai 3 buah hati. Yah, setidaknya selama tujuh tahun ini, beragam rasa telah mewarnai kehidupan percintaan kami yang terajut atas restu Ilahi.
Bagiku, cinta itu bagai permen nano-nano. Tahu permen yang satu itu, kan? Permen yang terkenal dengan slogannya, manis, asam, asin, rame rasanya. Permen yang bahkan sudah eksis sejak aku masih duduk di bangku sekolah berseragam merah putih, yang pastinya saat itu belum tahu apa yang dinamakan cinta dan seperti apa rasanya.
Sebelum memutuskan menikah di usia muda, saya tentunya sudah menyadari bahwa kehidupan kami setelah menikah tentu tidak akan selamanya lurus, tenang, tentram dan damai meskipun siapapun itu pasti akan mendambakannya. Lelaki yang berani mencuri hatiku pun juga berkali-kali menegaskan padaku, bahwa kehidupan berumah tangga itu bagai pelayaran mengarungi bahtera. Banyak ombak, bahkan badai yang mungkin akan menghadang di sepanjang perjalanan kebersamaan kami.
Banyak orang bilang kami adalah salah satu pasangan nekat karena menikah di usia muda. Bahkan ada yang tega berkata dengan kejamnya bahwa pernikahan di usia muda seperti itu tak akan pernah bertahan lama karena belum cukup makan asam garam kehidupan. Sejak itu, saya menguatkan dalam hati, bahwa saya memutuskan menikah bukan hanya karena ingin merasakan manisnya cinta, tapi saya total ingin terjun ke dunia wanita yang sesungguhnya, merasakan dimana fase demi fase menuju kesempurnaanya seorang wanita yang ditakdirkan oleh sang pencipta sebagai istri, sebagai ibu, yang kelak akan menjadi tiang penyangga utama dalam kehidupan keluarga kecil kami.
Karena kesiapan itulah, saya tak pernah merasa kaget jika harus mengalami perubahan rasa yang begitu mendadak dalam kehidupan cinta kami. Ada saat dimana aku dan suami selalu sejalan, sependapat, sepehaman, sehingga cinta terasa begitu manis semanis madu. Dan tak perlu saya jabarkan seperti apa rasanya, semua cukup jelas dengan kehadiran tiga buah hati kami yang begitu membahagiakan.
Tapi ada saat dimana kami masing-masing memiliki pendapat yang saling bertolak belakang, berusaha menekankan bahwa pendapat sendiri yang jauh lebih benar. Saat itu saya harus rela merasakan cinta yang rasanya begitu asam. Tapi tentu saja rasa asam itu tidak sampai membuat saya sampai lupa diri akan tugas dan tanggung jawab sebagai istri sekaligus ibu. Sebagai wanita, di saat rasa asam menerpa ini, saya berusaha memposisikan diri untuk lebih mengalah. Berusaha pelan-pelan melogiskan sehingga bisa menerima perbedaan tersebut.
Dan ada beberapa kali saat aku harus merasakan asinnya cinta. Saat hati merasa sakit, kecewa karena begitu sulit menerima kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan tentu ada air mata akan tertumpah. Air mata yang rasanya asin seasin cinta yang berubah rasa. Tapi Selalu ada hikmah dibalik asinnya cinta. Air mata yang tumpah selalu mampu mengobati rasa sakit dan kecewa dan selalu ampuh melembutkan hati yang keras dan kaku. Selalu mampu membuat si dia berusaha membujuk diriku, berupaya menenangkan dan menyenangkan hatiku kembali seperti sedia kala. Biasanya setelah itu, kami akan kembali seperti pasangan yang baru menikah. Kembali damai, aman dan tentram dan juga bahagia tentunya.
Yah telah tujuh tahun lebih kami mengarungi bahtera rumah tangga penuh rasa. Ada asamnya, ada asinnya tapi tentu manisnya jauh lebih banyak.
Semoga abadi selamanya hingga ke surgaNya.





24 comments
'Ne says:
February 22, 2012 at 10:31 pm (UTC 8)
Indahnyaa… semoga semakin mampu membuktikan bahwa menikah di usia muda itu tidak menakutkan.. karena langgengnya sebuah hubungan tidak selalu di ukur dari tua atau muda usia menikah..
*hehe ini katanya yang udah pada nikah
apa kabar mbak?
[Reply]
admin Reply:
February 22nd, 2012 at 10:52 pm
alhamdulillah mba, kabar baik, lama yaaa ga maen kesini.
[Reply]
Lidya says:
February 22, 2012 at 10:42 pm (UTC 8)
kaya lagi review premen mbak hehehe. 7 tahun ternyata sama kita ya. good luck ngontesnya ya
[Reply]
admin Reply:
February 22nd, 2012 at 10:52 pm
hehe, iya mba, lagi mood aja, apalagi tadi blum ada peserta
[Reply]
Prit Punya Cerita says:
February 22, 2012 at 11:05 pm (UTC 8)
Manis asem asin, rame rasanya..
hahahhaha…
komplit ya Mbak
Btw, ngos ngosan juga gak nulisnya?
[Reply]
admin Reply:
February 24th, 2012 at 12:50 am
hehe, nggak kok mba, saya kalau harus ngos2an, mending nyerah aja
[Reply]
marsudiyanto says:
February 22, 2012 at 11:17 pm (UTC 8)
Pokoknya kalau rasanya masih datar2 saja, belum bisa dikatakan cinta beneran Mbak…
Itulah knapa tema “cinta” tak pernah ada habisnya, tak pernah ada matinya.
Selamat menikmati nano2, selamat menikmati cinta
[Reply]
admin Reply:
February 24th, 2012 at 12:50 am
selamat menikmati juga yah pak
[Reply]
Mugniar says:
February 23, 2012 at 12:28 am (UTC 8)
Semoga menang ya mbak.
Eh, tapi saya lihat di BLOGDETIK : http://bloggerbicaracinta.blogdetik.com/2012/02/22/tema-bbcblogdetik-rabu-22-feb-2012/comment-page-2/#comment-639
URL mbak koq tidak dimasukkan … ?
[Reply]
admin Reply:
February 24th, 2012 at 12:50 am
ada kok mba, mgkn blogdetik masih belum sehat bener jadi ga semua komen terlihat
[Reply]
Ichsan Afriadi says:
February 23, 2012 at 1:14 am (UTC 8)
Assalamualaikum, setuju dengan ini “kehidupan berumah tangga itu bagai pelayaran mengarungi bahtera” meskipun saya belum merasakannya tapi gambarannya udah terlihat!
[Reply]
admin Reply:
February 24th, 2012 at 12:51 am
wa’alaikum salam mas
hebat deh, udah tahu duluan.
[Reply]
Citro Mduro says:
February 23, 2012 at 1:22 am (UTC 8)
asam dan asin cinta dalam rumah tangga yang menjadikan rumah tangga itu indah dan bahagia
Semoga senantiasa mendapat rahmatNya ya mbak
salam dari pamekasan madura
[Reply]
admin Reply:
February 24th, 2012 at 12:52 am
bener mas, karena asam dan asinnya cintalah hingga kehidupan pernikahan terasa lebih bermakna.
salam balik mas dari makassar
[Reply]
Ejawantah's Blog says:
February 23, 2012 at 5:15 am (UTC 8)
Semoga selalu diberikan kebarokahan dalam kehidupan dengan atas nama cinta yang selalu mendapatkan ridho Illahi.
Sukses selalu
Salam
Ejawantah’s Blog
[Reply]
admin Reply:
February 24th, 2012 at 12:52 am
amin. makasih sahabat
[Reply]
Pengamat Cinta says:
February 23, 2012 at 8:55 am (UTC 8)
Cinta memank isinya macam2 nduk.
Makanya perlu pendewasaan agar cinta kepada pasangan tak layu.
Semoga berjaya dalam kontes.
Lihat2 ach
Salam hangat dari Surabaya
[Reply]
admin Reply:
February 24th, 2012 at 12:54 am
kontesnya tiap hari kok pakdhe, kok ga ikutan lagi.
hehe untung2an sih, soalnya pemenangnya cuma 1 pdhl yg ikutan buanyakkk
salam hangat balik pakdhe
[Reply]
naya elbetawi says:
February 23, 2012 at 9:47 am (UTC 8)
Aamiin Allahumma Aamiin.. semoga selalu bahagia dunia akherat
Duuhh… kapan ya jadi ibu rumah tangga truss…ngurusin anak dan suami,. hhmm…semuanya pasti indah bangettt ^_^
[Reply]
admin Reply:
February 24th, 2012 at 12:55 am
makasiih yah dek Naya.
ada waktunya kok, tunggu saja cinta datang menjemputmu
[Reply]
Niar Ningrum says:
February 23, 2012 at 10:46 am (UTC 8)
Wah cinta..emang ndak ada habis na di bahas.. Met merasakan permen cinta nano2 bunda
[Reply]
admin Reply:
February 24th, 2012 at 12:55 am
[Reply]
Budi Arnaya says:
February 23, 2012 at 5:36 pm (UTC 8)
Kematangan berumah tangga ngak bisa diukur dari umur, dan saya menentang hal itu, kembali dari pribadi yang menikah
Abangmu ini menikah umur 22 tahun, Syukurlah dari sejak menikah sampai sekarang segala sesuatu kami lakukan bersama ngak pernah meminta lagi sama orang tua, bahkan anak kami pernah opname masih sanggup, Semasih ada jalan untuk usaha mari kita usaha sendiri dulu.
Tidak seperti beberapa kerabat, sedikit-sedikit kembali ke orang tua.
meskipun kadang ada sedikit perbedaan itu wajar dan sah-sah saja, kita kembalikan kepada diri sendiri. Hati dan pikiran kita ada sering tidak sejalan, jadi nikmati nano ciantanya dengan bijak
[Reply]
admin Reply:
February 24th, 2012 at 12:58 am
sama bang. suamiku juga dulu umurnya 22-23 waktu menikah. masih kuliah. blum ada kerjaan tetap. alhamdulillah ga pernah minta2 sama ortu.

selalu saja ada rezeki dari arah tak terduga saat kami butuh. alhamdulillah.
kalau kami dikasih sama ortu, itu bukan karena minta, tapi mereka kasihnya tulus buat cucu2nya
selamat menikmati nano2nya juga bang
[Reply]