Sekali lagi maafkanlah…
Karena aku…cinta kau dan dia…
Maafkanlah…Ku tak bisa…tinggalkan dirinya…
Nada dering yang beberapa bulan lalu kusetel untuk panggilan masuk di ponselku membuat hatiku luruh tak tertahankan. Membuatkau abai akan panggilan yang entah dari siapa. Tak pernah kusangka, lagu yang sering kusenandungkan saat masih berstatus kekasih Rhea kini benar-benar menjadikanku dilema. Masih kuingat dengan jelas, tiga bulan yang lalu, saat semuanya belum terjadi. Aku dan Rhea masih jalan beriringan. Berusaha menerima perbedaan, menyatukan asa, cita juga cinta yang mulai menemukan tujuannya. Namun kebahagiaan yang pelan-pelan tumbuh bersemi itu tiba-tiba musnah seketika saat kenyataan mengharuskanku terlibat dalam kecelakaan naas itu. Aku tak punya pilihan. Aku benar-benar tak punya pilihan.
Air mataku menitik, setetes. Melihat seorang wanita terbaring lemah di hadapanku. Perban menyelimuti setiap bagian tubuhnya yang terluka. Rambutnya yang tertutup jilbab saat kecelakaan itu terpaksa dipotong pendek karena benturan keras di bagian kepala dan lehernya. Wajahnya masih pucat, tapi ia tetap kelihatan cantik. Ia juga sangat baik dan lembut. Tak pernah sekalipun terdengar nada benci di bibirnya meskipun ia tahu akulah penyebab kecelakaan yang membuat dirinya kehilangan kedua orangtuanya sekaligus sebelah lengannya. Ia selalu bilang aku tak bersalah, semua adalah takdir dari yang kuasa. Lelaki mana yang tega meninggalkan wanita sebaik dirinya di saat sedang dalam kondisi seperti itu. Aku sungguh tak tega. Walau untuk itu aku harus mengorbankan cinta. Cintaku pada Rhea.
***
“Apa kau mencintainya, Za?”. Sebuah kalimat pertama sekaligus pertanyaan yang kau ucapkan sejak empat pekan aku tak bisa hadir dalam hari-harimu itu begitu menohok hatiku.
“Maafkan aku Rhea, tolong mengerti! Ini bukan soal cinta atau tidak. Ini soal tanggung jawab yang tidak bisa kuelakkan!”
Jawabanku itu bagai desah angin yang meliuk menerobos celah ventilasi ruangan serba putih. Tak ada tanggapan sama sekali. Rhea tak berhenti mendesah. Berulang kali ia menarik napas berat. Aku tahu, ini juga tidak mudah baginya.
Kuulang sekali lagi kalimat yang sama, berusaha mencari wajahnya yang terus ia buang ke sisi lain. Aku tahu ada air mata yang ia sembunyikan.
“Kenapa kita harus mengalami semua ini, Za? Aku bisa mengizinkanmu menemaninya untuk sementara, tapi aku tidak bisa terima kalau kamu harus menjadi penjaganya seumur hidup. Bagaimana denganku? Bagaimana dengan semua janji dan harapan yang sudah kita tuliskan dalam kitab cinta di hati kita berdua? Apa kamu tega mengabaikan bahkan melupakan semuanya begitu saja hanya karena wanita itu? Aku tidak rela, Za! Aku tidak rela kehilangan kamu!”
Akhirnya lepas sudah semua yang menjadi beban pikirannya sejak tadi. Aku tak tega melihat ia berkata dalam isak tangisnya. Aku memang paling tidak bisa melihat seorang wanita menangis. Tapi kali ini aku benar-benar terpaksa membiarkannya meneteskan air mata. Aku ingin memeluknya, menenangkannya seperti biasa tapi wanita terbujur lemah yang masih tak sadarkan diri di hadapan kami itu jauh lebih membutuhkan seseorang darinya.
“Kau mencintainya? Apa hanya dalam waktu sekejap, kau bisa mencintai perempuan lain? Kau lupa berapa lama kita bersama hingga mencapai kata sepakat sama-sama punya rasa cinta?” tanyanya ketus menatap nanar kepadaku.
“Ini bukan soal cinta Rhea. Ini soal tanggung jawab. Kalau jadi diriku, apa yang kamu lakukan? Apa kamu bisa meninggalkannya? Dia sudah kehilangan semuanya karena kecerobohanku. Dia sudah tidak punya siapa-siapa lagi Rhe. Dia juga harus kehilangan sebelah lengannya. Apa bisa kau bayangkan seperti apa hidupnya nanti kalau aku menjadi lelaki pengecut. Katakan apa kamu tega meninggalkannya jika ada di posisiku Rhea?” balasku ketus.
“Kau bisa bertanggung jawab hingga dia sembuh. Apa kau harus menyerahkan hidupmu juga!?”
“Rhea, siapa yang bisa menebak seberapa lama ia bisa sembuh. Kalaupun sembuh ia takkan mungkin bisa seperti sedia kala lagi sebagai sosok yang sempurna. Ia cacat dan itu karenaku. Aku adalah lelaki, makhluk ciptaan Tuhan yang diberi beban lebih dalam hal tanggung jawab. Aku tidak punya pilihan. Aku juga tidak pernah ingin kehilangan kamu. Tapi wanita itu butuh aku. Kamu masih bisa hidup dan memilih lelaki lain yang lebih dari diriku dalam hal apapun termasuk besarnya rasa cinta untukmu, tapi wanita itu…wanita itu tidak punya pilihan apapun Rhe. Sudah sebulan ia terbujur lemah, sebentar bangun, sebentar kemudian tak sadarkan diri lagi. Tolong mengerti aku!!!”
“Harusnya kamu yang mengerti aku. Kau ingin jadi lelaki yang bertanggung jawab untuknya. Tapi mana tanggung jawabmu atas janji cinta kita, tanggung jawab atas janjimu pada kedua orangtuaku untuk menjagaku!? Kenapa aku yang harus menderita?” suaranya yang serak semakin membuat hatiku bagai tersayat sembilu. Perih. Itu karena aku masih sangat mencintainya. Tapi Tuhan menakdirkan aku untuk berusaha mencintai wanita lain yang kini harus jadi tanggung jawabku seumur hidupku.
“Maafkan aku Rhea. Aku mohon mengertilah. Semua sudah ditakdirkan olehNya, kita harus ikhlas menerima. Aku mungkin takkan pernah bisa berhenti mencintaimu. Tapi aku tidak punya pilihan selain harus meninggalkanmu. Maafkan aku.”
***
Tiga bulan berlalu. Wanita yang kini kupanggil dengan sebutan dinda itu perlahan menunjukkan peningkatan kesembuhannya. Kata dokter, ini adalah keajaiban cinta. Aku masih samar, apa rasa kasihan dan pasrah untuk bertanggung jawab itu telah bermetamorfosis menjadi rasa cinta seperti yang dulu disangkakan Rhea kepadaku.
Sejak sadar, berulang kali dinda memintaku untuk pergi. Tak harus bertanggung jawab atas apa yang menurutnya adalah takdir dari Tuhan yang justru membuatku semakin tak bisa meninggalkannya.
Tanggung jawab lahir karena cinta, tapi untukku mungkin berbeda. Cinta terlahir karena rasa tanggung jawabku sebagai seorang laki-laki.
Aku mungkin memang telah mencintainya. Tapi aku tak ingin berbohong kalau di hatiku juga masih ada Rhea.
Rhea yang selama lima tahun terakhir telah mewarnai hari-hariku.
Hanya Tuhan yang tahu kapan salah satu cinta itu hilang tak berbekas, hingga yang lain bisa tumbuh berkembang dan abadi selamanya.
Sekali lagi maafkanlah…
Karena aku…cinta kau dan dia…
Maafkanlah…Ku tak bisa…tinggalkan dirinya…





11 comments
TonyKoes says:
February 26, 2012 at 9:24 am (UTC 8)
Kalau begitu pilihlah dua-duanya
Tidak ada yang mampu melawan takdir..
[Reply]
Ridha Reply:
February 27th, 2012 at 12:23 am
andai ada yg mau diduakan mas
jujur aku pun tak sudi
[Reply]
marsudiyanto says:
February 26, 2012 at 3:47 pm (UTC 8)
Semoga sukses di BBC hari terakhir ini
[Reply]
Ridha Reply:
February 27th, 2012 at 12:22 am
hehe, belum beruntung sayanya pak mars
[Reply]
vizon says:
February 26, 2012 at 5:59 pm (UTC 8)
Cinta yang lahir karena tanggungjawab..? Hmm… suatu hal yang mungkin sekali terjadi, karena cinta tidak melulu soal rasa, tapi juga soal logika..
Cerita yang bagus sekali Mbak Ridha..
[Reply]
Ridha Reply:
February 27th, 2012 at 12:22 am
makasih uda, sayang blogdetik ga milih
gpp, jadi pembelajaran aja buat yg baca
[Reply]
Anto says:
March 2, 2012 at 12:03 pm (UTC 8)
“Hanya Tuhan yang tahu kapan salah satu cinta itu hilang tak berbekas, hingga yang lain bisa tumbuh berkembang dan abadi selamanya.”
konfliknya bagus. pilihan yang sulit, tapi saya setuju dengan endingnya.
nice story.
keep writing.
salam
[Reply]
Ridha Reply:
March 2nd, 2012 at 5:35 pm
makasih mas Anto. salam kenal balik
[Reply]
Asop says:
March 2, 2012 at 4:23 pm (UTC 8)
Ouch, saya ingin kisah yang penuh intrik dan pengkhianatan!
[Reply]
Diandra says:
March 20, 2012 at 12:02 pm (UTC 8)
berada di persimpangan memang tdk mengenakan….
[Reply]
Ridha Reply:
March 21st, 2012 at 7:38 am
bener mbak
[Reply]